Refleksi untuk Aceh

Posted by Arjuna

Risma, Gadis Acehku Karya: Usy Musa Pria kucel berkacamata tebal tampak disibukkan dengan keyboard lap topnya. Mulutnya tak henti-hentinya menghisap rokok murahan yang hampir habis. Sesekali tangannya menggaruk-garuk rambutnya yang sudah beruban, namun tetap nyentrik dengan gaya 70-an. Pekerjaan itu dihentikan sejenak, lalu tangannya cepat-cepat membuka amplop cokelat yang baru diterimanya pagi tadi. Kali ini matanya terbelalak menatap tulisan di dalam amplop itu. ‘’ Ayo buktikan kalau kamu memang investigator yang handal,’’ begitu akhir kalimat dalam surat itu. Lalu dilipat lagi kertas putih tersebut. Sebuah surat dari kenalan lama yang menantangnya untuk membuat buku hasil investigasi kehidupan malam kota ini. Sebuah tantangan yang gampang-gampang susah. Sejak menjadi wartawan sebuah harian terkemuka di kota ini sampai keluar enam tahun lalu dan memilih untuk menjadi penulis freelance di berbagai media, dia memang tak pernah melakoni pekerjaan yang berkaitan dengan dunia malam. Sebuah investigasi yang selain menguras pikiran, tenaga dan biaya juga harus menguji imannya sebagai seorang lelaki. Perang irak yang maha dahsyat, gerakan separatis di Aceh, bahkan bencana gempa dan tsunami 10 tahun lalu pernah dilibasnya untuk sebuah berita. Bahkan kota-kota kecil yang berlum pernah dijamahnya pun pernah diliputnya. Tapi ini… sebuah tantangan untuk menundukkan kehidupan malam kota ini. Kehidupan yang penuh nafsu dan godaan-godaan birahi. Tapi sebuah tantangan hanya bisa dijawab dengan pembuktian. Dan itu harus dilakoninya. ### Tidak mudah bagi seorang Rano untuk bergumul dalam kehidupan malam kota ini. Disamping karena hidupnya lebih banyak dihabiskan di daerah konflik, bencana dan daerah-daerah terpencil, jarang bahkan hanya beberapa kali saja ia sempatkan untuk keluar di klab malam. Sebuah tempat yang asing baginya. Dentuman musik berirama cepat dengan lampu warna-warni yang selalu berputar membuat pusing kepalanya. Dilangkahkan kakinya disalah satu pojok ruangan tersebut. Terlihat disana seorang pria berperawakan tambun dengan perut besar bercengkerama dengan dua wanita seksi. Keduanya nampak bergelayutan dipundak laki-laki tambun tersebut. Rano duduk disalah satu kursi di samping perempuan tersebut. Seorang perempuan berpakaian minim dengan belahan dada yang melebar terlihat mendekatinya dan langsung duduk disampingnya. ‘’ Sedang sendiri aja mas, boleh saya temenin,’’ tawar perempuan itu. ‘’ Eh….eh… lagi nunggu temen kok, maaf,’’ tolak Rano dengan sedikit gugup. ‘’ Ehmmm…. Maaf saya mau ke kamar kecil dulu,’’ lanjutnya dan langsung menyeruak diantara orang-orang yang sedang jojing menikmati irama house musik. Dikamar kecil itu Rano berusaha menenangkan diri. Namun belum satu menit dia berada dikamar tersebut dari luar seseorang menggedor-gedor pintunya. Dengan bergegas Rano langsung keluar sambil menata bajunya. Ketika sedang menunduk, tiba-tiba ….duk ditabraknya seorang perempuan dengan berpakaian sedikit terbuka dengan rok pendek dan baju model kemben yang sedikit terbuka sehingga terlihat payudaranya yang agak menonjol. ‘’ Eh…. Maaf’’ ujar Rano dengan respek menggapai pundak perempuan itu yang hampir terjatuh. Setelah semuanya normal, Rano berlalu dan melirik perempuan berambut sebahu itu. Wajahnya sungguh khas, perpaduan melayu dan pribumi dengan mata tajam dan hidungnya yang mancung. Tidak lama berselang Rano masih termangu di kursi yang sama ketika dia pertama kali datang ke tempat tersebut. Sesakali matanya mondar-mandir sambil mencari calon mangsanya. Pandangannya terhenti ketika dilihatnya perempuan yang ditabraknya itu sedang asyik meminum minuman keras di depan meja bartender. Dengan lekas dia beranjak menemui perempuan berambut sebahu itu dan sengaja duduk disampingnya. ‘’ Anda sendirian,’’ sapa Rano ‘’ Memang siapa yang bersamaku, aku memang sendiri, sendiri dan terus sendiri,’’ ujar perempan berambut sebahu itu dengan nada mabuk. ‘’ Kenapa heh..’’ lanjutnya sambil melirk Rano dengan tersenyum. ‘’ Anda sudah kebanyakan minum,’’ ucap Rano. ‘’ Apa pedulimu,’’ ujar perempaun itu sambil meraih kembali gelasnya. Namun apa yang terjadi begitu mengejutkan Rano. Tiba-tiba tubuh perempuan berambut sebahu itu lemas dan seketika pulas di meja bartender. Mengetahui hal itu, bartender lalu menyuruh Rano untuk mengangkatnya dari sana. Dengan cekatan hal itu dilakoninya. Setelah keluar klab tersebut dia baru tersadar mau dibawa kemana tubuh perempuan itu. Dan nalurinya sebagai jurnalis muncul, dirogohnya dompet kecil yang berada di tas hitam milik perempuan itu. Lalu dilihat KTP nya. ‘’ Jalan Angkasa nomor 162,’’ Alamat yang tertera dalam KTP perempuan itu. Seketika Rano beranjak dan langsung mencegat taksi dan meluncur ke alamat yang tertera di KTP tersebut. Tepat di depan rumah yang tertera di KTP tersebut. Rumah dua lantai bercat kuning gading itu terlihat begitu mewah. Beberapa mobil mewah juga tampak diparkir di depan rumah itu. ‘’ Tunggu sebentar ya pak. Ujar Rano pada sopir taksinya. Lalu diketuknya pintu rumah mewah itu, dan tidak lama setelah itu seorang perempuan yang meski sudah separuh baya tapi tetap kelihatan menor dengan pakaian yang juga terlihat seksi. ‘’ Kenapa lagi dia,’’ tanyanya sinis ‘’ Tadi saya temukan dia mabuk di klab,’’ jawab Rano singkat. ‘’ Ya sudah bawa aja dia ke kamarnya di ataas paling pojok sebelah kiri,’’ perintah perempuan itu. Akhirnya Rano tiba disebuah kamar yang didepan pintunya penuh dengan hiasan kupu-kupu. Langsung saja ditariknya gerendel pintunya, namun sepertinya terkunci. Langsung saja dirogohkannya tangannya ke tas hitam milik perempuan itu dan didapatnya kunci kamarnya. Setelah pintunya terbuka, Rano langsung merebahkan tubuh perempuan itu menuju ketempat tidur, masih dalam keadaan tidak sadar. Setelah dirapikan posisinya, lalu dia melangkah keluar kamar perempuan itu. Namun baru dua kali melangkah-tiba-tiba pandangannya terhenti pada sebuah foto di dinding pojok kamar itu. Diamatinya foto yang mulai buram pada sebuah pigura kayu. Pikirannya langsung melayang teringat pada sebuah bayangan gadis kecil yang lucu dan selalu ceria. Gadis kecil berusia enam tahunan yang selalu nampak ceria meski kedua orangtuanya sudah tewas ketika gempa dan gelombang tsunami meluluhlantakkan kampungnya di sebuah pantai, Meulaboh, Aceh Barat 10 tahun lalu. ‘Risma’ nama gadis kecil yang langsung menghampirinya ketika dia disibukkan dengan liputan bencana tersebut. Risma yang selalu memintanya untuk dibuatkan mainan pesawat dari kertas, dan Risma yang kerapkali menjerit ketika dicubit pipinya yang tembem. Risma yang menangis ketika harus dia tinggalkan karena tugasnya disana sudah selesai ‘’ Bukankan ini Risma,’’ batin Rano sambil terus mengamati setiap sudut muka gadis kecil itu. ‘’ Apakah perempuan berambut sebahu ini Risma,’’ Pertanyaan itu langsung menyeruak. Dilihatnya perempuan berambut sebahu itu tertidur pulas sehingga tak tega dia menanyakan hal itu sekarang. Kali ini targetnya sudah jelas, perempuan berambut sebahu itu yang akan ditemuinya lagi diklab malam yang sama. Dan benar dugaannya, perempuan berambut sebahu itu sedang duduk-duduk di sebuah sofa di pojok ruangan itu. Dan tanpa dikomando langsung saja didekati perempuan itu. ‘’ Halooo,’’ sapa Rano ramah. ‘’ Ehmm, anda yang mengantarkan saya kemarin ya, trimakasih,’’ jawab perempuan itu dengan nada sedikit sopan dibandingkan sehari sebelumnya. ‘’ lagi sendirian,’’ tanya Rano lagi. ‘’ Iya,’’ jawabnya pendek. ‘’ Tidak keberatan saya temani,’’ ajak Rano masih dengan suara yang ramah. ‘’ Boleh…. Kenalkan nama saya Risma,’’ sambut perempuan itu sambil mengulurkan tangannya. Bagai tersambar petir Rano langsung terdiam dengan ekspresi wajah yang langsung terdiam dan mata membelalak. ‘’ Benar, dia Risma…Rismaku… ohhh Tuhan,’’ batinnya. ‘’ Anda kenapa,’’ tanya Risma keheranan. ‘’ Risma….. Benar kamu Risma?,’’ tanya Rano dengan suara terbata-bata. ‘’ Iya… kenapa?,’’ tanya perempuan itu dengan keheranan. ‘’ Asal anda darimana,’’ tanya Rano lagi. ‘’ Jangan tanyakan itu saya sudah tidak kuasa lagi untuk mengingatnya. Asalku dan siap aku sudah aku kubur selamanya, bencana itu yang membawaku kesini, membuat aku seperti sekarang ini menjadi perempuan hina, tanpa moral,’’ Maki Risma pada dirinya sendiri. ‘’ Risma, kamu masih ingat saya. Kamu Risma gadis kecilku dari Meulaboh bukan. Rismaku yang selalu memintaku membuat pesawat dari kertas, Risma…,’’ ucap Rano dengan suara parau dan langsung menunjukkan foto lamanya dengan pose membawa kamera di sebuah lokasi bencana. ‘’ Bang Rano, benar ini bang Rano… bang rano saya….,’’ seketika Risma memeluk Rano dan disambut Rano dengan kehangatan layaknya sepasang saudara yang terpisah lama. ‘’ Aku sudah seperti ini bang, nggak berguna seperti sampah. Aku selalu berharap bisa bertemu Bang Rano, akhirnya tuhan mengabulkannya. Bang tolong aku bang, tolong aku… ,’’ ucap Risma dengan terisak. ‘’ Tenang Risma, tenang…,’’ ucap Reno dengan membelai rambut Risma. Tanpa berpikir panjang diajaknya Risma untuk meninggalkan tempat itu menuju kerumahnya. Rano dikejutkan untuk kedua kalinya ketika Risma mengatakan saat ini sedang sakit. Sebuah penyakit yang sukar didapat obatnya, penyakit AIDS. Dengan berlinangan air mata Risma menceritakan deritanya tersebut. ‘’ Ini akibat tindakan tercela yang aku lakukan selama ini bang. Mungkin ini balasan tuhan padaku,’’ ucap Risma. ‘’ Kenapa kamu sampai disini Risma,’’ tanya Rano. ‘’ Ceritanya panjang bang,’’ jawab Risma kemudian menceritakan pengalamannya tersebut. Saat itu selang beberapa hari setelah ditinggalkan Rano, kakak angkatnya yang telah dua bulan mengisi hari-harinya Risma didatangi seorang perempuan yang elok dan terlihat baik hati. Dan layaknya anak-anak dia mudah sekali diambil hatinya apalagi saat itu dia sangat membutuhkan kasih sayang seseorang setelah seluruh kerabatnya dilalap tsunami. Karena sudah sebatang kara sehingga ketika perempuan bernama Nany itu mengajaknya untuk tinggal di jakarta akhirnya tanpa berpikir panjang dia sanggupi. Bukan main senangnya bisa pergi ke Jakarta yang kata gurunya disekolah sunguh elok dengan segala macam tempat wisata. Awal-awal dia masuk ke kota metropolitan itu bagaikan anak seorang penggede. Segala kehendaknya dituruti Nany. Dia kerapkali diajak mengunjungi tempat wisata macam dufan atau sea wold, sebuah tempat yang dahulu hanya ada dalam bayangannya saja. Dia juga pernah mengenyam pendidikan di sebuah sekolah favorit di kota itu. ‘’ Untuk menyesuaikan dengan lingkungan kelas tinggi,’’ begitu kata Nany tentang alasan kenapa dia dimasukkan ke sekolah mewah tersebut. Di sekolah itu dia dituntut untuk bisa berperilaku dan bersikap layaknya anak-anak high class lainnya. Dan itu semakin membuat bangga dirinya. Namun hal itu hanya berlangsung dua tahun, setelah itu oleh Nany dia diserahkan kepada perempuan lainnya dan harus hidup di kota Batam, sebuah kota yang berbatasan dengan negara tetanga Singapura. ‘’ Untuk sementara, agar kamu punya banyak pengalaman,’’ ujar Nany kepadanya sebelum meninggalkannya ke Batam. Kehidupan mulai berubah di kota industri tersebut. Meskipun fasilitas disana tidak kalah jauh ketika masih di Jakarta, namun banyak tuntutan yang harus dijalankannya ketika disana. Disana dia harus mengikuti kursus model yang sebenarnya tidak disukainya. Dan disana dia juga harus bergaul dengan orang-orang yang usianya jauh diatasnya. Karena pergaulannya itulah meskipun usianya baru menginjak 12 tahun dia sudah terbiasa merokok dan meminum alkohol. Dan kehidupan malam pun sudah bukan asing baginya. Akhirnya pergaulan bebas mulai menjadi kebiasannya. Pertamakali dia ditiduri oleh seorang laki-laki yan usianya berselang 8 tahun dari usianya. Namun saat itu hal itu dilakukan dengan perasana suka sama suka. Tapi akhirnya diketahuinya lelaki itu adalah suruhan Mony, ibu angkatnya. Hal itu diketahuinya ketika dia mendengar perbincangan antara lelaki itu dengan wanita cantik yang mengaku pacarnya. Bukan main perasaannya saat itu, lelaki yang dikiranya menyukainya ternyata hanya mempermainkannya saja. Karena frustasi akhirnya dia lari kepada minuman. Dan hal itu dimanfaatkan Mony untuk mengajarinya menjual diri. Karena ada dendam akhirnya hal itu diturutinya apalagi setelah mengetahui dia bisa menghasilkan uang banyak dari pekerjaan itu. Dengan kecantikan parasnya dan keelokan tubuhnya yang memang terlihat lebih dewasa dibandingkan umurnya membuat banyak lelaki yang menyukainya. Dan dia mulai terkenal dikalangan lelaki hidung belang high class dikota itu. Pekerjaan itu dilakukannya lebih dari lima tahun hingga akhirnya dia disadarkan pada sebuah kenyataan bahwa dia menderita penyakit kelamin bernama sipilis. Bukan main gemparnya dunia prostitusi high class kota itu setelah diketahui Risma mengidap sipilis. Lama kelamaan pamor dia sebagai seorang primadona kemudian luntur. Dan akhirnya dia benar-benar menjadi tidak laku dan hanya menjadi bahan gunjingan saja. Dengan keberanian yang tersisa kahirnya dia tinggalkan kota itu menuju ke tempat asalnya. Tiba di Jakarta, Risma tidak ada tempat lain yang dituju selain rumah Nany, kakak angkatnya yang dahulu. Beruntung Nany tidak mengetahui penyakit yang diderita Risma. Dan tidak ubahnya dengan Mony, Nany juga berprofesi sama sebaia seorang mucikari kelas tinggi. Kenyataan yang lebih menyakitkan terjadi ketika Risma divonis mengidap HIV setelah berhubungan badan dengan seorang lelaki blasteran indo Jerman yang ditemuinya disebuah klab malam. Dan kabar itu mulai menyebar sehingga membuatnya menjadi perempuan penghibur yang tidak dijamah lelaki satu pun. Bahkan diasingkan. ‘’ Ingin rasanya saya bertobat bang, tapi dosa saya sudah terlalu banyak, saya terlalu banyak bergelimpangan dosa. Mungkin tuhan tidak akan mau menerima tobat saya,’’ ucap Risma kepada Rano. ‘’ Tuhan itu maha pengampun Risma. Tobat seorang pembunuh diakhir kematiannya pun diterimanya. Jadi tidak ada kata terlambat untuk berserah diri kepadanya. Percayalah pasti tuhan akan memberikan yang terbaik untuk kamu,’’ katanya. ‘’ Tapi aku bingung harus memulainya dari mana, semua orang sudah tidak mau menerima saya. Semua sudah menjauhi saya bang,’’ katanya. ‘’ Percayalah Risma tuhan akan mengampuni dosa hambanya yang mau bertobat kepadanya. Sekarang kamu memiliki saya dan bisa mengandalkan saya. Jadi tenang saja Risma,’’ ujar Rano menenangkannya. ‘’ Terimakasih bang, terimakasih,’’ jawab Risma. Lima bulan lamanya Risma berusaha mengubah kehidupannya. Dibawah bimbingan Rano dia mulai menemukan kehidupan yang sudah sepuluh tahun direnggut oleh kenistaan. Risma sudah kembali menjadi Risma, gadis lucu yang ceria dan penuh optimis. Sampai akhirnya sang khaliq membawanya ke alam yang penuh kedamaian, alam fana.

This entry was posted on Selasa, 25 Desember 2007 at 05.19 . You can follow any responses to this entry through the comments feed .

1 komentar

http://tips-for-new-bloggers.blogspot.com/search/label/Marquee

6 Januari 2008 pukul 09.53

Posting Komentar