SURABAYA – Tidak mampu membeli sepeda motor, tidak menjadi aral untuk FX Waryono untuk sehat. Di sebagian besar umurnya, dia menggunakan sepeda pancal untuk segala aktivitas. Hasilnya, meski usianya telah menginjak 65 tahun, dia masih kuat bersepeda dari Taman Bungkul-Sidoarjo dan Surabaya-Malang. Meski semua giginya habis terkikis, kakek tiga cucu itu masih bisa berjalan tegak layaknya anak muda lainnya. Rambut yang memutih dan wajah yang berkerut memang tidak bisa menyembunyikan sisi tuanya. Tapi dia tidak kalah kalau hanya untuk bersepeda dibandingkan dengan orang yang memiliki umur setengahnya. Di timnya yang tidak memiliki nama itu, Waryono dijuluki ’si kakek kuat’. ”Sejak sekolah hingga bekerja dan keterusan sampai sekarang, selalu pakai sepeda,” ucapnya saat melakukan pemanasan di Taman Bungkul, Kamis (20/03). ”Ya bagaimana lagi, tidak ada uang untuk membeli sepeda motor,” tambahnya. Karena kebiasaannya itu, Waryono memiliki kelebihan yang tidak disadarinya datang dari bersepeda. Mantan karyawan di suatu perusahaan pelayaran di Surabaya itu setiap harinya tidur di atas lantai tanpa alas. ”Saya tidur hanya memakai celana,” ucapnya. Meski demikian, dia tidak pernah masuk angin karena kedinginan. Bahkan, sakit flu pun jarang dirasakan. ”Sesekali memang pernah tapi dua tiga hari sembuh tanpa obat,” tutur Waryono. Warga Simo Agung itu juga seorang perokok. Tapi, keluhan gangguan pernapasan tidak pernah dirasakan. Dia paling bersyukur karena tidak dihinggapi penyakit kolesterol, stroke atau penyakit berat lainnya. Saat ini, dia hanya memiliki sebuah sepeda pancal. Dia membelinya sekitar dua tahun lalu dengan harga Rp 1,5 juta. Meski demikian, Waryono tidak minder saat harus berjejer dengan sepeda yang harganya puluhan juta rupiah saat berlabuh di Taman Bungkul. ”Yang penting manfaatnya Mas,” katanya dilanjutkan dengan terkekeh. Lain halnya dengan Timotius Wiran. Pria yang bekerja di bidang penanaman modal asing itu rela merogoh koceknya Rp 40 juta untuk sebuah sepeda. ”Saya membeli terpisah dan merangkai sendiri sesuai keinginan,” ucapnya. Saat ditanya alasan, pria 45 tahun itu seperti sulit menjawabnya. ”Ya karena hobi saja,” ucapnya. Saat jadi pemula, Pak Tim panggilan akrabnya membeli sepeda seharga Rp 2,5 juta. Setelah banyak membaca referensi tentang sepeda, Pak Tim meng-up grade seperti yang diinginkan. Seperti rangka, dia mencari yang ringan seharga Rp 18 juta. Menurut dia, perbedaan sepeda murah dan mahal terletak pada performance. Bentuk sepeda lokal sangat sederhana dan hanya satu ukuran. Padahal, tiap orang memiliki tinggi badan dan panjang kaki yang berbeda-beda. Selain itu, semakin mahal harganya, bersepeda pun semakin nyaman. Pak Tim mengatakan, bikers tidak perlu mengeluarkan tenaga besar untuk kecepatan tertentu. ”Letaknya pada spare part yang digunakan,” ucapnya. (eko)
Oleh : Eko Priyono Penulis, tinggal di Purbalingga Jawa Tengah MUHAMMADIYAH sebagai organisasi keagamaan yang bergerak dalam wilayah kultural, telah berhasil menorehkan tinta emas bagi wajah Islam melalui berbagai aksi perjuangan, khususnya gerakan tajdid dan purifikasi nilai-nilai agama dari akulturasi budaya yang mengitarinya. Berkat kegigihan Ahmad Dahlan, Muhammadiyah mampu memberikan warna tersendiri dalam kehidupan sosial politik yang ketika itu cenderung bersifat imperial. Sebagai organisasi dakwah yang memiliki banyak amal usaha dan berwatak sosial partisipatoris, rupanya saat ini Muhammadiyah sedang tereduksi oleh orientasi materi dan kepentingan praktis. Keberhasilan Muhammadiyah mendirikan lembaga-lembaga pendidikan dan unit-unit pelayanan kesehatan, ternyata menimbulkan pandangan arogansif dari internal Muhammadiyah itu sendiri. Kesuksesan yang telah dicapai saat ini justru digunakan sebagai justifikasi dan klaim kebenaran (truth claim) atas paham keberagamaan Muhammadiyah yang juga memiliki arti menafikan paham keberagamaan yang lain. Sikap romantisme juga cenderung dominan dalam berbagai aktivitas keberagamaan Muhammadiyah. Dalam berbagai kegiatan yang diadakan selalu disinggung bagaimana Muhammadiyah berhasil menciptakan iklim religious dan menyelamatkan paham keberagamaan yang benar sesuai al-Qur’an dan Sunah. Kuantitas amal usaha yang dimiliki saat ini juga selalu menjadi bahasan menarik dan tidak pernah habis. Namun, hal tersebut tidak disertai dengan langkah reflektif dan evaluatif agar tujuan kemanusiaan yang dikembangkan dan dibanggakan saat ini benar-benar menyentuh kalangan pheripery. Tidak berhenti sampai disitu, gagalnya Muhammadiyah dalam mengantarkan kader terbaiknya ke kursi RI-1 pada pemilu lalu semakin merangsang ‘nafsu politik’ dan menimbulkan keinginan untuk mencoba yang kedua kali. Hal tersebut dapat dibaca dari gelagat dari sebagian kecil kalangan yang mendorong agar Muhammadiyah menciptakan partai baru untuk memperlicin jalan menuju kekuasaan setelah PAN gagal menjembatani keinginan tersebut. Saat ini, dengan usianya yang hampir mencapai satu abad, Muhammadiyah seharusnya lebih mampu menciptakan pencerahan atas problem akut umat yang tengah dihadapi, berkat arus globalisasi dan persaingan teknologi yang semakin terbuka atau bahkan sudah terlalu renta untuk mengadakan gebrakan perubahan. Sehingga hari-harinya diisi dengan menikmati jerih payah yang telah di kumpulkan selama ini, sembari menunggu ajal tiba. Menyambut Muktamar Muhammadiyah ke-45 yang akan diselenggarakan di Kota Malang pada bulan Juli mendatang, diharapkan Muhammadiyah dapat segera mengambil sikap tegas atas fenomena perubahan orientasi organisasi. Membangun paradigma dan prinsip baru dengan tetap mengacu pada prinsip awal, merupakan langkah evaluatif kultural yang dapat mengembalikan Muhammadiyah kepada khittahnya sebagai organisasi dakwah. Sekalipun hal tersebut sangat sulit dilakukan, karena pihak-pihak yang menginginkan Muhammadiyah menjadi organisasi praktis, cukup kuat bercokol dan memiliki pengaruh dalam tubuh Muhammadiyah itu sendiri. Sehingga sangat tidak menutup kemungkinan, Muhammadiyah akan dibawa dan diarahkan sesuai kebutuhan pemegang kendali organisasi. Fenomena tersebut sudah mulai tampak sejak saat ini. Berbagai agenda diadakan untuk menggalang dukungan dari tataran grass root sebagai langkah persiapan agar keinginan tersebut dapat terwujud. Memang tidak mudah menghadapinya dan tidak cukup hanya dengan berdebat dan saling beradu argumen. Bahkan cara persuasif pun sangat kecil kemungkinannya, karena paradigma yang bermain lebih didominasi oleh orientasi materialistik. Dibutuhkan generasi kritis yang berani merubah watak politik yang mulai matang. Salah satu cara efektif adalah dengan mengembangkan counter opinion yang disertai langkah reflektif dengan menampilkan konstruk dan realitas sosial yang ada untuk membangkitkan sense of belonging each other dalam kerangka pemberdayaan kaum marjinal pinggiran. Memang cara ini mirip dengan persuasif, namun setidaknya kita menampilkan pilihan-pilihan yang didalamnya menuntut daya selektif dalam menentukan skala prioritas. Pilihan-pilihan yang ada pun bukan sebuah rekayasa, tetapi gambaran nyata dari konstruk sosial kita saat ini. Dengan begitu, apapun pilihan yang menjadi prioritas, merupakan gambaran Muhammadiyah saat ini. Apakah masih sesuai dengan khittahnya yaitu memperjuangkan dan memihak kaum proletar pinggiran dan mustad’afin kota? Ataukah muhammadiyah saat ini telah menganggap dirinya modern dan cukup pintar sehingga harus ikut turun dalam dunia praktis yang penuh bergelimpangan materi dan berorientasi pada kekuasaan? Kita tunggu jawabannya pada Muktamar mendatang. []
Salam untuk semuanya.
pemberitahuan bahwa www.makoyani.blogspot.com telah berpindah alamat ke www.mancingbandeng.blogspot.com
atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih
I'm Not Like Them..............
- Arjuna
- Setiap orang memiliki kemampuan untuk mengeksplorasi diri sendiri dan orang lain. Kami adalah orang yang ingin melakukan itu tanpa harus menerjang batas-batas tata-laku kehidupan normal