Oleh : Eko Priyono Penulis, tinggal di Purbalingga Jawa Tengah MUHAMMADIYAH sebagai organisasi keagamaan yang bergerak dalam wilayah kultural, telah berhasil menorehkan tinta emas bagi wajah Islam melalui berbagai aksi perjuangan, khususnya gerakan tajdid dan purifikasi nilai-nilai agama dari akulturasi budaya yang mengitarinya. Berkat kegigihan Ahmad Dahlan, Muhammadiyah mampu memberikan warna tersendiri dalam kehidupan sosial politik yang ketika itu cenderung bersifat imperial. Sebagai organisasi dakwah yang memiliki banyak amal usaha dan berwatak sosial partisipatoris, rupanya saat ini Muhammadiyah sedang tereduksi oleh orientasi materi dan kepentingan praktis. Keberhasilan Muhammadiyah mendirikan lembaga-lembaga pendidikan dan unit-unit pelayanan kesehatan, ternyata menimbulkan pandangan arogansif dari internal Muhammadiyah itu sendiri. Kesuksesan yang telah dicapai saat ini justru digunakan sebagai justifikasi dan klaim kebenaran (truth claim) atas paham keberagamaan Muhammadiyah yang juga memiliki arti menafikan paham keberagamaan yang lain. Sikap romantisme juga cenderung dominan dalam berbagai aktivitas keberagamaan Muhammadiyah. Dalam berbagai kegiatan yang diadakan selalu disinggung bagaimana Muhammadiyah berhasil menciptakan iklim religious dan menyelamatkan paham keberagamaan yang benar sesuai al-Qur’an dan Sunah. Kuantitas amal usaha yang dimiliki saat ini juga selalu menjadi bahasan menarik dan tidak pernah habis. Namun, hal tersebut tidak disertai dengan langkah reflektif dan evaluatif agar tujuan kemanusiaan yang dikembangkan dan dibanggakan saat ini benar-benar menyentuh kalangan pheripery. Tidak berhenti sampai disitu, gagalnya Muhammadiyah dalam mengantarkan kader terbaiknya ke kursi RI-1 pada pemilu lalu semakin merangsang ‘nafsu politik’ dan menimbulkan keinginan untuk mencoba yang kedua kali. Hal tersebut dapat dibaca dari gelagat dari sebagian kecil kalangan yang mendorong agar Muhammadiyah menciptakan partai baru untuk memperlicin jalan menuju kekuasaan setelah PAN gagal menjembatani keinginan tersebut. Saat ini, dengan usianya yang hampir mencapai satu abad, Muhammadiyah seharusnya lebih mampu menciptakan pencerahan atas problem akut umat yang tengah dihadapi, berkat arus globalisasi dan persaingan teknologi yang semakin terbuka atau bahkan sudah terlalu renta untuk mengadakan gebrakan perubahan. Sehingga hari-harinya diisi dengan menikmati jerih payah yang telah di kumpulkan selama ini, sembari menunggu ajal tiba. Menyambut Muktamar Muhammadiyah ke-45 yang akan diselenggarakan di Kota Malang pada bulan Juli mendatang, diharapkan Muhammadiyah dapat segera mengambil sikap tegas atas fenomena perubahan orientasi organisasi. Membangun paradigma dan prinsip baru dengan tetap mengacu pada prinsip awal, merupakan langkah evaluatif kultural yang dapat mengembalikan Muhammadiyah kepada khittahnya sebagai organisasi dakwah. Sekalipun hal tersebut sangat sulit dilakukan, karena pihak-pihak yang menginginkan Muhammadiyah menjadi organisasi praktis, cukup kuat bercokol dan memiliki pengaruh dalam tubuh Muhammadiyah itu sendiri. Sehingga sangat tidak menutup kemungkinan, Muhammadiyah akan dibawa dan diarahkan sesuai kebutuhan pemegang kendali organisasi. Fenomena tersebut sudah mulai tampak sejak saat ini. Berbagai agenda diadakan untuk menggalang dukungan dari tataran grass root sebagai langkah persiapan agar keinginan tersebut dapat terwujud. Memang tidak mudah menghadapinya dan tidak cukup hanya dengan berdebat dan saling beradu argumen. Bahkan cara persuasif pun sangat kecil kemungkinannya, karena paradigma yang bermain lebih didominasi oleh orientasi materialistik. Dibutuhkan generasi kritis yang berani merubah watak politik yang mulai matang. Salah satu cara efektif adalah dengan mengembangkan counter opinion yang disertai langkah reflektif dengan menampilkan konstruk dan realitas sosial yang ada untuk membangkitkan sense of belonging each other dalam kerangka pemberdayaan kaum marjinal pinggiran. Memang cara ini mirip dengan persuasif, namun setidaknya kita menampilkan pilihan-pilihan yang didalamnya menuntut daya selektif dalam menentukan skala prioritas. Pilihan-pilihan yang ada pun bukan sebuah rekayasa, tetapi gambaran nyata dari konstruk sosial kita saat ini. Dengan begitu, apapun pilihan yang menjadi prioritas, merupakan gambaran Muhammadiyah saat ini. Apakah masih sesuai dengan khittahnya yaitu memperjuangkan dan memihak kaum proletar pinggiran dan mustad’afin kota? Ataukah muhammadiyah saat ini telah menganggap dirinya modern dan cukup pintar sehingga harus ikut turun dalam dunia praktis yang penuh bergelimpangan materi dan berorientasi pada kekuasaan? Kita tunggu jawabannya pada Muktamar mendatang. []
This entry was posted
on Sabtu, 22 Maret 2008
at 09:53
. You can follow any responses to this entry through the
comments feed
.
I'm Not Like Them..............
- Arjuna
- Setiap orang memiliki kemampuan untuk mengeksplorasi diri sendiri dan orang lain. Kami adalah orang yang ingin melakukan itu tanpa harus menerjang batas-batas tata-laku kehidupan normal