Beberapa petugas berseragam coklat yang berjaga di depan pintu depan rutan terlihat garang. Mata yang disipitkan, badan yang ditegakkan agar menyerupai militer. Langkah yang tegap sebagai penanda sikap berani dan suara tegas untuk memoles eksyennya. Terutama jika ada pengunjung yang agak pelit dan sok miskin, harus dipandang salah, dan bersiap-siaplah menerima tamparan lidahnya.
Namun pose petugas yang tidak lebih dari sebagai kacung tahanan dan narapidana itu hanya berlangsung dalam beberapa menit saja. Bukan senjata atau lawan yang lebih besar yang bisa menyurutkan nyalinya. Kertas bertuliskan rupiah yang hanya beberapa lembar lebih punya wibawa ketimbang pengunjung yang berbadan bongsor. ”Asal bisa buat beli rokok, juga boleh,”.
Apalagi, jika tamu yang datang dari kalangan perlente dan royal ---karena tidak sedikit pula orang yang berduit tapi bergaya miskin alias medit-- petugas yang tadinya merasa memiliki rutan dan harus menjaganya mati-matian, langsung menunduk dan menyibakkan jalan agar tamu istimewa itu bisa lewat seperti raja. ”Halo bos,” begitu sapannya ramah dengan tangan diangkat layaknya kopral menyapa jenderal.
Jangan harap orang miskin atau sekedar berlagak miskin dihormati, atau setidaknya mendapat perlakuan kata-kata yang menyejukkan. Semakin tampak kesan kere, maka kita bukanlah termasuk orang yang patut dihargai.
Uang bukan lagi menjadi raja yang bisa memerintah dan diagung-agungkan. Tapi juga merebut posisi Tuhan yang bisa menentukan segala-galanya, termasuk surga dan neraka seseorang di dunia. (*)
This entry was posted
on Jumat, 07 Maret 2008
at 05.40
. You can follow any responses to this entry through the
comments feed
.